project7alpha – Presiden AS Donald Trump mengobarkan kembali perang dagang dengan memberlakukan tarif impor hingga 60% untuk produk China dan 20% untuk barang-barang Uni Eropa, Senin (14/6/2024). Kebijakan ini memicu gejolak di pasar global, dengan indeks saham dunia anjlok 4% dalam 24 jam pertama.
Kebijakan Trump yang Mengguncang Pasar
Trump mengumumkan keputusan kontroversialnya melalui konferensi pers di Mar-a-Lago. “Kami akan melindungi industri AS dari praktik curang negara lain. Tarif ini membuat Amerika menang lagi,” ujarnya. Langkah ini menargetkan produk baja, aluminium, elektronik, dan kendaraan listrik China. Uni Eropa juga kebagian tarif 20% untuk mobil mewah dan produk pertanian.
Ekonom Bank Dunia memperingatkan bahwa kebijakan Trump berpotensi memicu resesi global. “Pemerintah negara lain akan membalas. Ini mengancam rantai pasok yang sudah rapuh pasca-pandemi,” kata Chief Economist Indermit Gill.
Reaksi Berantai Negara-Negara Besar
China membalas dengan menaikkan tarif 30% untuk kedelai dan pesawat Boeing AS. Menteri Perdagangan China Wang Wentao menyebut Trump sebagai “provokator ketidakstabilan ekonomi”. Sementara itu, Uni Eropa mengancam akan mengenakan pajak retaliatory pada produk teknologi AS seperti iPhone dan Tesla.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, “Kami menolak politik dagang yang egois. Uni Eropa akan bertindak tegas untuk melindungi kepentingan kami.”
Dampak Langsung pada Perekonomian
Pasar saham Asia terpukul paling parah. Indeks Hang Seng China tumbang 6%, sementara Bursa Efek Indonesia tutup dengan penurunan 3,2%. Harga komoditas seperti minyak sawit dan batubara merosot 8% akibat kekhawatiran penurunan permintaan global.
Di AS, perusahaan otomotif Ford dan GM menunda investasi senilai $5 miliar di pabrik baterai listrik. “Kenaikan harga komponen impor membuat proyek kami tidak layak,” keluh CEO Ford Jim Farley.
Protes dan Kritik Global
Kelompok buruh AS mendesak Trump mencabut kebijakan tarif. “Kami kehilangan pasar ekspor karena negara lain membalas. Ini merugikan pekerja AS,” kata Presiden AFL-CIO Liz Shuler.
Mantan Sekjen PBB Ban Ki-moon mengkritik Trump lewat opini di The Guardian: “Dia mengabaikan pelajaran sejarah. Perang dagang 2018-2020 menghapus $1,7 triliun dari ekonomi dunia.”
Masa Depan Perdagangan Internasional
Analis memprediksi harga barang konsumen AS akan melonjak 15% dalam 6 bulan ke depan. Kenaikan tarif juga berpotensi memperburuk inflasi global yang masih di atas 5%.
“Trump memainkan api di gudang mesiu. Jika perang dagang berkepanjangan, dunia akan menghadapi krisis lebih buruk dari 2008,” tegas ekonom peraih Nobel, Paul Krugman.